Dengar kata² ekslusif rasanya ada ruang tersediri dari komunitas tertentu…coba deh baca opini dari blog dibawah ini
, yang merasa ekslusif jgn tersinggung yeee…
so… berkesan ekslusif? Penting ga seh?
Sumber : http://zahratha.multiply.com/journal/item/12
Eksklusif, mungkin kata ini tak asing lagi bagi kita, terutama dikalangan muslimah, hal ini bukan merupakan hal yang disengaja, tapi merupakan lahir dari keinginan untuk kaffah dalam hal bersikap.
Tapi yang sering menjadi sorotan adalah muslimah, mereka bilang orang yg berjilababer itu sombong, jutek, dan eksklusif (sebel dech )
Biasanya mereka bersikap seperti itu terhadap lawan jenisnya, kita berbicara nunduk, tanpa memperhatikan lawan bicara kita, mungkin bagi yg udh paham ga masalah, tp bagi orang yang masih amah (blm ngerti masalah pandangan) dia akan tersinggung, jd bsk2nya dia ga mau ngomong sama kita, karena merasa di cuekin ketika kita ngomong, padahal sebenernya kita mah ngedengerin. Ada cerita yg lucu, mengenai masalah menjaga pandangan “Ketika itu ada seorang ikhwan dan akhwat berpapasan dijalan, akhwat tersebut tidak berani melihat si ikhwan, dia nunduk terus, sampe2 ga tau kalo didepannya ada sebuah selokan, tanpa ada aba2 si akhwat tersebut langsung aja nyebur , otomatis si ikhwan jd nengok, si ikhwan merasa iba, mau nolongin tp bkn muhrimnya, ya udh si ikhwan tersebut langsung jalan terus.” emang kita harus menjaga pandangan kita, tp ga perlu seperti itu kan!!!
Sebenarnya kta bisa mengatasi hal tersebut, misalkan ketika kita berbicara dengan lawan bicara yg bukan muhrim, kita bisa menatap gerakan bibirnya atau kita bs melihat kupingnya, asal jgn melihat tatapan matany, karena yg ga blh itukan tatapan mata, kan dengan seperti itu dia ga merasa di cuekin.
Muslimah yg berjilbab memang banyak ga perlu beramah2, meskipun itu terhadap tetangga kita apalagi lawan jenis, Berbicar seperlunya memang bagus, tp kita perlu tau bahwa tetangga sering menjadi org pertama jika terjadi sesuatu yg terjadi, ga salah kan kita menyapanya, atau setidaknya menganggung sedikit saat didepan mereka.
Sikap eksklusif jg bukan diperuntukan lawan jenis aja, tp juga kpd perempuan sekitar rmh, bukannya bagi sesama wanita justru lebih terbuka, tersenyum atau menyapanya adalah hal2 yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir kesan ga ramah itu.
Biasanya akhwat yg jilababer akrab hanya pd jlbaber yg lain, ada temen saya yg ga pake jlbab bil “kenapa sih org yg jllbaber itu ngomongnya sm jilbaber jg, ketika saya mau gabung eh mrk diam,”
Kenapa? bukannya semua org adlh obyek da’wah yg hrs kita ajak kpd kebaikan? kenapa seolah2 ada pengelompokan, jilbab lebar dan tidak, ikhwan berjenggot dan tidak, dll
PADAHAL GA GITU KAN????


duh sampe segitu nya ya. ck.. ck. ck..